TULISAN TANPA ARAH

Selasa, 17 April 2018

#DAY27 #30DWC #30daywritingchallenge #30DWCjilid12 #firstsquad




PENGEMBARA KECIL & SOSOK HARAPAN
CHAPTER VII : DAY 3 - PELAJARAN


            Bukankah manusia lebih sering menghakimi daripada klarifikasi. Bukankah jika kita berteman akrab dengan seseorang menyebabkan ketergantungan padanya. Bukankah di kehidupan berikutnya kita akan sendiri. Lalu, sudahkah kita mempersiapkan diri?

            Malam yang sunyi, tapi tak selalu sepi. Ini malam minggu, banyak para peminat puncak sedang berjalan. tak jarang aku tiba-tiba terjaga karena mendengar suara beberapa orang lewat. Jam mengarah ke angka 2, dan kusadari bahwa hujan sudah reda. Aku tetap dengan keadaanku, yaitu hanya berselimut kain sleeping bag dan bersugesti tetap panas.

            Jam 3 dini hari, kuputuskan untuk segera packing dan selanjutnya turun. Tidak ingin aku berlama-lama dengan kondisi ‘mengenaskan’ ini, tapi menurutku ini kondisi yang menarik.

            Dalam perjalanan turun, aku bertemu beberapa orang, kebanyakan mereka dalam perjalanan summit menuju puncak. Dan kulihat sudah banyak tenda berdiri, tapi seakan kosong, sepertinya telah ditinggal pemiliknya pergi summit. Sangat berbeda dengan hari dimana aku berangkat, hanya ada aku, dan dua orang itu.

            Kukira akan mudah perjalanan turun ketimbang naik, tetapi tidak jauh berbeda. Mungkn Karena staminaku yang belum sepenuhnya pulih akibat kurangnya pasokan makanan. Cadangan air pun sudah habis sedari kemarin. Air terakhir yang kuminum adalah tadi, sewaktu sebelum berangkat. Itu pun air tadahan hujan semalam, tapi hanya bisa dapat beberapa teguk saja, karena banyak bercampur dengan tanah. Aku bersyukur bisa minum.

            Berat sekali rasanya tubuh ini, pundak ini rasanya pegal karena beban carrier, sepatu pun sering kulepas untuk membersihkannya dari tanah yang masuk. Jika ada kubangan air yang cukup banyak, maka itu adalah kesempatanku, yaitu melegakan dahaga.

            Ditemani udara segar pagi hari ditambah hawa sejuk pegunungan. Dan menapaki langkah sendiri. Tak lupa bertegur sapa jika ada yang melintang. Berteriak dalam sepi mengikuti nyanyian burung hutan. Dan aku berharap ada lolongan srigala sehingga aku bisa mengikutinya. Ah, kesendirian yang bermakna.

            Setelah menempu waktu sekitar 5 jam, terlihat ada warung makan. Saatnya mengisi perut lalu kembali pulang.

            Ibu penjaga warung ini terlihat sangat supel, menyenangkan bila diajak bicara. Kita sudah mengobrolkan banyak hal, mulai dari cerita-cerita sang ibu, yang katanya ia juga seorang pendaki di tahun 70 an dulu, lalu anaknya yang bahkan belum masuk SD sudah pernah tek-tok di gunung ini, dan cerita-cerita lain. Aku sangat menikmati jika berbicara dengan orang yang lebih tua dariku, karena mereka telah hidup lebih lama dan pengalaman mereka pastinya lebih banyak.

            Kusudahi singgahanku di warungnya, tak lupa aku diberi oleh-oleh setandan pisang (gratis), dan memberikan tumpangan ke jalan raya(bayar, karena anaknya ojek), aku sangat berterima kasih kepadanya. Dengan perut kenyang kutuntaskan turunan ini hingga ke pos basecamp, untuk checkout lalu menyudahi semua ini, kembali ke asal, pulang.

            Sosok harapan. Ia bukanlah manusia, ia bukanlah siapa-siapa melainkan sekedar bayangan dan khayalanku akan situasi menyenangkan yang akan kualamai saat pendakian. Tetapi faktanya, semua hanya harapan palsu.

            Berharap bukanlah suatu perbuatan yang buruk, jika memang bukan berharap kejelekan. Dan jika harapan itu disandarkan kepada yang selayaknya. Apabila hanya sekedar harapan semu berbentuk angan-angan, sebaiknya di sudahi. Jika masih bersikeras boleh saja, tapi jangan harap keindahan khayalanmu akan terjadi. Dan ingat, semakin besar kita berharap, semakin besar kita kecewa.

            Maka selayaknya kita lebih berhati-hati pada harapan, pergunakan ia dengan bijak, maka ia akan adil nantinya. Jangan berlebihan dalam berharap, karena hasrat manusia lebih panjang dari umurnya. Dan jangan salah dalam menyandarkan harapan, Yang Maha pengatur lagi Maha Kuasa adalah yang paling layak diserahi semua urusan.

            Semoga kita tidak dimasukkan kedalam golongan berjiwa lemah, yaitu yang panjang angannya. Dan dikumpulkan dengan sebaik-baik umat pada hari yang dijanjikan kelak. Tambahan, dan semoga penulis bisa bertemu orang seperti ini lagi suatu saat.
SALAM LESTARI.




_-FAIQ-I’M DON-_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAHKAN, BEBAS BERKOMENTAR.