PENGEMBARA KECIL & SOSOK HARAPAN
CHAPTER VII : DAY 3 - PELAJARAN
Bukankah
manusia lebih sering menghakimi daripada klarifikasi. Bukankah jika kita
berteman akrab dengan seseorang menyebabkan ketergantungan padanya. Bukankah di
kehidupan berikutnya kita akan sendiri. Lalu, sudahkah kita mempersiapkan diri?
Malam
yang sunyi, tapi tak selalu sepi. Ini malam minggu, banyak para peminat puncak
sedang berjalan. tak jarang aku tiba-tiba terjaga karena mendengar suara
beberapa orang lewat. Jam mengarah ke angka 2, dan kusadari bahwa hujan sudah reda. Aku tetap
dengan keadaanku, yaitu hanya berselimut kain sleeping bag dan bersugesti
tetap panas.
Jam
3 dini hari, kuputuskan untuk segera packing dan selanjutnya turun.
Tidak ingin aku berlama-lama dengan kondisi ‘mengenaskan’ ini, tapi menurutku ini kondisi
yang menarik.
Dalam
perjalanan turun, aku bertemu beberapa orang, kebanyakan mereka dalam perjalanan summit menuju puncak. Dan kulihat sudah banyak
tenda berdiri, tapi seakan kosong, sepertinya telah ditinggal pemiliknya pergi summit. Sangat
berbeda dengan hari dimana aku berangkat, hanya ada aku, dan dua orang itu.
Kukira
akan mudah perjalanan turun ketimbang naik, tetapi tidak jauh berbeda. Mungkn Karena
staminaku yang belum sepenuhnya pulih akibat kurangnya pasokan makanan.
Cadangan air pun sudah habis sedari kemarin. Air terakhir yang kuminum adalah
tadi, sewaktu sebelum berangkat. Itu pun air tadahan hujan semalam, tapi hanya bisa dapat beberapa teguk saja, karena banyak
bercampur dengan tanah. Aku bersyukur bisa minum.
Berat sekali rasanya tubuh ini,
pundak ini rasanya pegal karena beban carrier, sepatu pun sering kulepas untuk
membersihkannya dari tanah yang masuk. Jika ada kubangan air yang cukup banyak,
maka itu adalah kesempatanku, yaitu melegakan dahaga.
Ditemani udara segar pagi hari
ditambah hawa sejuk pegunungan. Dan menapaki langkah sendiri. Tak lupa bertegur
sapa jika ada yang melintang. Berteriak dalam sepi mengikuti nyanyian burung
hutan. Dan aku berharap ada lolongan srigala sehingga aku bisa mengikutinya.
Ah, kesendirian yang bermakna.
Setelah menempu waktu sekitar 5 jam,
terlihat ada warung makan. Saatnya mengisi perut lalu kembali pulang.
Ibu penjaga warung ini terlihat
sangat supel, menyenangkan bila diajak bicara. Kita sudah mengobrolkan banyak
hal, mulai dari cerita-cerita sang ibu, yang katanya ia juga seorang pendaki di
tahun 70 an dulu, lalu anaknya yang bahkan belum masuk SD sudah pernah tek-tok
di gunung ini, dan cerita-cerita lain. Aku sangat menikmati jika berbicara
dengan orang yang lebih tua dariku, karena mereka telah hidup lebih lama dan
pengalaman mereka pastinya lebih banyak.
Kusudahi singgahanku di warungnya,
tak lupa aku diberi oleh-oleh setandan pisang (gratis), dan memberikan
tumpangan ke jalan raya(bayar, karena anaknya ojek), aku sangat berterima kasih
kepadanya. Dengan perut kenyang kutuntaskan turunan ini hingga ke pos basecamp,
untuk checkout lalu menyudahi semua ini, kembali ke asal, pulang.
Sosok
harapan. Ia bukanlah manusia, ia bukanlah siapa-siapa melainkan sekedar
bayangan dan khayalanku akan situasi menyenangkan yang akan kualamai saat
pendakian. Tetapi faktanya, semua hanya harapan palsu.
Berharap
bukanlah suatu perbuatan yang buruk, jika memang bukan berharap kejelekan. Dan
jika harapan itu disandarkan kepada yang
selayaknya. Apabila hanya sekedar harapan semu berbentuk angan-angan, sebaiknya
di sudahi. Jika masih bersikeras boleh saja, tapi jangan harap keindahan
khayalanmu akan terjadi. Dan ingat, semakin besar kita berharap, semakin besar
kita kecewa.
Maka selayaknya kita lebih
berhati-hati pada harapan, pergunakan ia dengan bijak, maka ia akan adil
nantinya. Jangan berlebihan dalam berharap, karena hasrat manusia lebih panjang
dari umurnya. Dan jangan salah dalam menyandarkan harapan, Yang Maha pengatur
lagi Maha Kuasa adalah yang paling layak diserahi semua urusan.
Semoga kita tidak dimasukkan kedalam
golongan berjiwa lemah, yaitu yang panjang angannya. Dan dikumpulkan dengan
sebaik-baik umat pada hari yang dijanjikan kelak. Tambahan, dan semoga penulis
bisa bertemu orang seperti ini lagi suatu saat.
SALAM LESTARI.
_-FAIQ-I’M DON-_


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SILAHKAN, BEBAS BERKOMENTAR.