PENGEMBARA KECIL & SOSOK HARAPAN
CHAPTER IV : DAY 2 – HANYA DIRIKU
Air hujan yang turun tanpa di minta, sebagian merangkul dedauan dan enggan tuk berpisah, yang lain berucap selamat tinggal tapi dengan segera tempatnya digantikan. Bersama embun itu, aku membuat nyali jiwa menyala. Dan bersama sosok harapan ini, aku menakuti ciut hati pengecut.
Aku mulai melangkah naik, dan meninggalkan kedua orang yang telah menolongku, ku buat diriku mengingat akan kebaikan mereka, karena mungkin aku tak akan menikmati mie instan atau mencium aroma kopi tanpa bantuan mereka.
Dari info yang mereka berikan, ada sekitar 3 orang yang sedang summit menuju puncak, harapanku bisa bertemu mereka di puncak atau sebelumnya sehingga bisa menjadi teman perjalanan. Tapi itu hanyalah harapan palsu, setelah berjalan sekitar 15 -20 menit aku sudah bertemu mereka yang sedang perjalanan turun.
“turun mas?”, kumulai percakapan.
“iya, naik sendiri?”
“iya”
“mau botol minum mas?”, menawariku karena melihatku tanpa bekal minuman.
“oh, nggak usah, hujan kok, banyak air. Saya duluan ya, mari”
‘haha’, aku tertawa dalam hati karena khayalan kosongku, dan aku mendapat sebuah pelajaran, yaitu untuk tidak terlalu bergantung pada orang lain.
Tanpa bekal minum, tanpa teman, cuaca tak bersahabat dan jarak tempuh yang lumayan, semua harus kuhadapi sendiri. Mungkin akan terjadi berbagai kemungkinan, hujan deras lah, energi terkuras lah, atau bahkan yang lebih buruk dari itu. Di sisi lain, kurangnya skill dan keterampilan mungkin juga akan memperburuk keadaan. Aku menghela nafas panjang.
Sejatinya, inilah kebebasan. Bersendiri di hutan, bercengkrama ria bersama alam, bertadabbur khusyu’ dengan agungnya ciptaan Tuhan, tanpa gangguan orang. Terasa berbeda, mendengar kicau burung alam liar dan yang di dalam sangkar, suara unik mahluk itu terkadang menemaniku, seakan ia menyampaiakan pesan kebebasan. Benar, setiap mahluk hidup sejatinya ingin bebas,seperti manusia, hanya saja manusia dengan tamaknya memperbudak mereka. Menyenangkan rasanya bisa berteman dengan isi alam, meski tak saling mengerti, tapi bahasa universal bisa memahamkan semuanya.
Cobaan pertama datang, gerimis yang tadinya menemaniku, pergi berganti hujan yang lumayan, aku harus mencari shelter alami. Aku mulai ragu, bingung dan cemas karena berbagai hal, apakah aku turun saja demi keselamatan, atau memaksa naik, atau mencari tempat perlidungan seperti goa kecil dan menunggu hujan reda?!. Entahlah, yang penting aku harus hidup, tak boleh aku mati konyol gegara hujan.
Tak ada tempat yang bisa melindungi seluruh badanku, aku pun duduk di celah lereng kecil, dilindungi beberapa tumbuhan seperti akar diatasku, tapi tak bisa menghalangi air, dan jaket waterproof-ku juga tak bisa kedap air terlalu lama. Aku hanya rindu sang surya.
Awan hujan mulai bermurah hati padaku, aku bisa melanjutkan perjalanan dengan gerimis ini. Tak lupa beceknya tanah, basahnya pakaian dan licinnya medan, yang semua adalah perbuatan hujan, menjadi rintanganku. Tak mengapa, aku suka tantangan.
Sekian jam diri ini tertatih-tatih dalam kerasnya medan, cobaan kedua datang, yaitu haus dahaga karena lelah dan capai. So, ini hanya masalah sepele, pikirku, karena berkah alam telah memberiku kesempatan. Genangan-genangan yang timbul akibat air hujan lumayan banyak, ku mancari yang agak dalam dan langsung menyeruputnya, karena jika menggunakan tangan maka akan sedikit bercampus dengan pasir. Ah, rasanya sangat dingin dan segar, dan tempatnya akan selalu ada sepanjang jalan ke atas, tak peduli aku jika itu jorok, tidak sehat atau lainnya, yang terpenting bisa sedikit menambah stamina. Tiba-tiba terlintas dipikiranku suasana kost yang selalu siap air, membandingkannya dengan di sini, gunung. Ternyata aku masih menjadi hamba yang kurang bersyukur, terima kasih diriku karena telah lelah dan hujan karena telah turun. Puas diri ini dengan keadaan.
Tendaku berada di pos 8, dan pos teratas adalah 14, di peta terlihat sangat dekat hanya beberapa cm, tapi faktanya tanjakan curam menjulang jauh ke atas, sangat-sangat jarang ku temui tanah landai. Rasa putus asa tak hentinya memanggil saat melihat medan disertai tubuh yang sukar bertahan.
Oh jauhnya, masih jauh kah? Kepada siapa ku bertanya. Oh lelahnya, ku menoleh kanan-kiri, memangnya siapa yang akan memberi semangat. Ku tertawa dan diam bersamaan.
Hosh, hosh…, aku harus berjalan, aku harus menyeret kaki yang mulai enggan ini. Bahkan pikiran pun mulai berbisik kejelekan, menghasut berbagai hal untuk membuatku ketakutan dan putus asa, agar aku menyerah lalu berputar-balik dan turun. Ku coba memompa semangat agar tak mudah padam, tapi hasilnya tak memuaskan. Kucoba tenang dalam tekanan kekhawatiran turunnya hujan, tapi tetap saja cemas. Kucoba sering-sering minum genangan agar menambah energi, tapi daya tahan tubuh ini sulit dikendalikan.
Lalu, lewat saja sebuah ucapan di benakku, ‘apa harapanmu?. apa tujuanmu berbuat semua ini?.’ kupikirkan sejenak makna pertanyaan tadi. Aku setuju, mengapa aku capai-capai seperti ini, toh tidak ada yang akan mengapresiasiku; apa arti puncak bagiku, sanjungan sekilas dari orang lain kah; untuk apa semua kesusahan yang ku perjuangkan ini??
#DAY18
#30DWC #30daywritingchallenge
#30DWCjilid12 #firstsquad
“SOMETIMES, IT’S THE JOURNEY THAT TEACHES YOU A LOT ABOUT YOUR DESTINATION” -Drake

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SILAHKAN, BEBAS BERKOMENTAR.