PENGEMBARA KECIL & SOSOK HARAPAN
CHAPTER V : DAY 2 - KEHARUSAN
Hei,hei, ‘berhenti mendramatisir’, sahut bagian lain dari diriku. Ketika kita sendirian, kita lebih sering berbicara dengan diri kita. ‘hanya satu langkah’ , sahut yang lainnya lagi. Ya benar, tak perlu memikirkan jauhnya jarak yang akan kutempuh, tapi aku hanya perlu fokus pada setiap langkahku. Bukankah hari tercipta dari setiap detik lalu berkumpul lah menjadi tahun. Ayo, lanjutkan.
Dengan motivasi diri, tekad sendiri, menghilangkan negative thinking sendiri, dan berbagai pemikiran yang akan membuatku kembali berjalan aku dengungkan dalam otak. Bersamaan dengan itu, mulutku sering berkomat-kamit berucap doa agar hujan mereda. Berjalan, menghela nafas, terengah-engah, haus, letih, takut, cemas, dan sendiri. Akhirnya sampailah aku di puncak.
Kukira suasana puncak yang cerah dan bisa bertemu pendaki lain sudah menungguku, tapi yang ada hanya kabut disertai mendung mau hujan, mana mungkin cuaca seperti ini ada orang yang mau ke puncak. Tak butuh waktu lama bagiku bertahan di puncak, karena air kembali jatuh dari langit, pertanda memintaku segera turun. Kunikmati sejenak view kawah dari gunung berapi yang mati, dan ku coba tuk merenung, ‘gunung sebesar ini, nantinya akan hancur seperti kapas-kapas yang beterbangan’. Terbayang, bagaimana diri seorang manusia yang sangat kerdil, tapi sombongnya lebih besar dari pada gunung.
Akupun turun, dengan hati-hati. Sepanjang perjalanan turun, tak ada hujan, hanya gerimis yang awet. Al hasil, pakaianku pun basah, dari jaket sampai CD. Saat itu, waktu sudah sore, tapi tak ada bedanya cuaca hari ini, karena sejak pagi langit sudah membuat bentuk tetap. Tak kulewatkan untuk sering menyeruput air dalam genangan saat turun, Karena jika dilihat orang lain akan sangat memalukan.
Antara pos 9 dan 10, aku bertemu regu pendaki yang berjumlah 5 orang, dan 1 anjing. Hah, anjing, ya, itu adalah anjing basecamp dan memang sering mengikuti para pendaki naik, kata orang yang kutemui. Aku turun lagi dan bertemu lagi regu lain, dan lain, tapi mereka tidak langsung menuju puncak, karena memang cuaca sedang hujan, tapi mereka membuat camp yang dekat dengan puncak agar mudah summit ke puncaknya. Mungkin juga karena ini hari sabtu, jadi banyak orang memiliki waktu luang untuk melakukan hobi mereka.
Akhirnya, sampailah aku di tendaku, pos 8. Perjalanan summit menuju puncak dan kembali lagi membutuhkan waktu sekitar 5 jam. Rencanaku, aku segera packing barang-barangku dan langsung turun ke basecamp, tidur di sana lalu besoknya kembali pulang. Setelah menimbang keadaanku sekarang, air di botol sudah sekarat dan tak memungkinkan membuat makanan dan kopi, lalu tak punya baju kering lagi bahkan jaket pun sudah basah, jadi sekalian basah-basahan saat turun dan mengejar waktu agar tidak terlalu larut.
Well, kurapikan dan kumasukkan barangku ke dalam carrier, saat sedang bersiap, suara air yang menghempas ke tenda semakin keras, ternyata hujan lebat seketika. Lalu keputusan apa yang harus kubuat, melanjutkan packing dan turun kah, atau bermalam lagi di sini?!. Waktu maghrib juga akan menyongsong.
Hujan yang lebat itu masih tak mau bersembunyi, diri ini pun mulai ragu dengan rencana awal, kuputuskan tuk tinggal di tenda dan esok hari baru pulang. Air mineralku sudah habis, pakaianku semua basah dan aku sendirian.
‘hei alam, kau ingin bercanda denganku ya’, kataku dengan tertawa sinis dalam hati. Baiklah, dalam kondisi apapun aku harus tetap hidup, karena ini alam liar, jika alam ingin menghalangi rencanaku tak mengapa, tapi aku akan bertahan. Petualangan baru kah, mungkin. Survive!
#DAY19
#30DWC #30daywrittingchallenge
#30DWCjilid12 #firstsquad
“THE END OF A JOURNEY MEANS THE START OF ANOTHER ONE” –BOOK OF FELICITY

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
SILAHKAN, BEBAS BERKOMENTAR.