TULISAN TANPA ARAH

Jumat, 13 April 2018

#DAY23 #30DWC #30daywritingchallenge #30DWCjilid12 #firstsquad




PENGEMBARA KECIL & SOSOK HARAPAN
CHAPTER VI : DAY 2 – KU TAK INGIN MATI

Terlewat siluet indah pertanda mulai bersembunyi mentari, lagi tak mungkin menatapnya, sedangkan panggung langit dibuat pertunjukan oleh mendung awan dan tetes hujan.

waktu senja pun mulai pergi, diganti malam, tapi hujan masih sanggup berdiri tanpa beranjak dari tempatnya. aku pun masih sama keadaannya, tetap sendiri dalam tenda hijau yang setia melindungi ini. Pikiranku pun tetap sama, yaitu bimbang. Antara menyesali keputusanku untuk tetap tinggal dan beranjak pulang, tak tahu mana yang terbaik. Sepertinya aku harus belajar, ya belajar, untuk memaknai petualangan.

Lihatlah kondisiku, tanpa air, yang mana air adalah kebutuhan pokok dalam pendakian, memasak pun tak bisa kulakukan. Tanpa pakaian kering, dan semua orang pun tahu jika pakaian melindungi tubuh dari dinginnya suhu ketika di gunung. Hatiku juga masih bimbang dan berkecimpung dalam keraguan, pula bayangan pikiranku yang menghipnotis badanku untuk pesimistis. Huuft, ironi solo hiking kah?!

‘Aku harus hidup’. Bisikan datang tiba-tiba. Ternyata sosok harapan. Memang benar, aku harus hidup, tak peduli situasi dan kondisi yang kualami, semua pasti ada hikmahnya, dan pengembara harus siap dengan resiko perjalanannya. Aku harus memutar otak dan tenang. Hey, ini alam bung, sumber pangan melimpah ruah disini. Lalu tiba saatnya aku menentukan langkah selanjutnya, yaitu membuat solusi logistik dan bertahan dari dingin. I’m ready.

Pertama, makanan. Cadangan makanan seperti roti tawar, dan sarden masih lah tersedia didalam tasku, hanya air saja yang sudah habis. Lalu bagaimana solusinya?. Ini seharusnya sangat mudah, jika sedari awal aku menenangkan pikiran. Sekarang hujan, bukankah ini sumber air yang melimpah. Segera kutempatkan panci berdiameter 14cm milikku di depan tenda, karena pertimbanganku jatuh pada panci, disamping aku sudah tak butuh memasak lagi, ia juga cukup luas untuk menampung titik air.

Kuputuskan juga untuk tidak makan, karena akan menimbulkan kehausan jika kita makan. Meski tanpa asupan energi, pasti tubuh ini bisa bertahan sampai fajar esok hari, toh hanya berkisar 8 jam lagi.

Musim penghujan di gunung tidak lebih dingin dari musim kemarau. Begitulah fakta sebenarnya hawa di gunung. Terasa lembab seluruh tubuhku jika masih menempel pakaian basah ini. Aku pun melepasnya dan hanya memakai CD. Hawa dingin pun merasuk sampai menusuk tulang, langsung saja kupakai sleeping bag-ku, meski bukan sleeping bag mahal yang biasanya terbuat dari bulu angsa, tapi itu harus cukup untuk mempertahankan badanku dari udara dingin.

Masih resah rasanya aku memakai CD yang sedikit basah, dan mau tidak mau, demi kenyamanan aku harus melepasnya. Jadilah diriku bertelanjang bulat dalam rangkulan sleeping bag. Tapi tak terlalu dingin rasanya, mungkin karena aku belum mandi dan bantuan dari panas tubuh manusia. Dan ini lebih baik dari pada ada sehelai pakaian basah menempel di tubuh. Tak lupa kaos kaki cadangan dan tambahan minyak kayu putih yang kuoleskan di sekitar badan dan leher.

Seperti inilah keadaanku, sendiri, tanpa balutan pakaian, tanpa air minum, terperangkap dalam derasnya hujan, dan berada di tengah antah berantah. Kakiku masih terasa kedinginan meski telah memakai kaos kaki. Leher dan badanku selalu kuolesi minyak kayu putih jika efek panasnya mulai menghilang. Badanku kujaga agar tetap terlungkup agar bisa menjaga hawa panas dan masuk dalam sleeping bag. Begitulah sekiranya keadaanku pada malam itu.

Harapan yang terlontar dari hati kepada Tuhan, tekad kuat untuk terus hidup, dorongan sugesti untuk berpikir tetap hangat, dan keinginan untuk tak mati saat itu, adalah faktor internal motivasiku. Aku manusia yang memiliki Tuhan, Dia Maha Melihat lagi Maha Mengetahui, pasti doaku tersampaikan.

Dalam ramainya belantara akibat hujan, kesendirianku dan lantukan doa harap penuh cemas, dan keinginan tak mau mati. Aku hanya harus memejamkan mata dan berharap esok dini hari hujan berhenti dan panciku terisi, saatnya kembali.

Semoga ... 





_DONqiafo-Allaits_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAHKAN, BEBAS BERKOMENTAR.