TULISAN TANPA ARAH

Rabu, 11 April 2018

BATASAN AKHLAK (BAGIAN 3)



SIKAP MANUSIA DAN BATASANNYA (3)

Kita akan melanjutkan pembahasan tentang batasan-batasan akhlak yang harus diketahui manusia. Karena manusia sifat dasarnya adalah tamak dan ambisius, kalau tidak ada orang lain yang membantunya untuk menahan hawa nafsunya, maka dirinya sendirilah yang harus belajar mengekangnya.

HASAD (dengki). memiliki batas, yaitu saling berlomba dalam mencari kesempurnaan dan menolak bila orang lain mendahuluinya. Bila lebih dari itu, ia berubah menjadi kezhaliman dan pelanggaran yang diikuti dengan harapan lenyapnya kenikmatan dari orang yang didengkinya dan berusaha untuk menyakitinya. Bila kurang maka ia adalah hinaan, kemauan yang lemah dan jiwa yang kerdil.
“Tidak boleh ada hasad kecuali dalam dua perkara : seorang laki-laki yang Allah beri harta, lalu ia membelanjakannya sampai habis dalam kebenaran. Dan, seorang laki-laki yang Allah beri hikmah (ilmu yang benar), lalu ia memberi keputusan dengannya dan mengajarkannya kepada manusia”. (Muttafaq ‘Alaih)
Ini adalah hasad saling bersaing, di mana pelakunya seperti orang yang didengkinya, bukan hasad hina yang pelakunya ingin lenyapnya nikmat dari pemiliknya.

Banyak manusia yang saling membenci hanya karena hal sepele, yaitu iri dengki terhadap nikmat yang diterima orang lain. Mereka tak sabar dengan jatah nikmat yang akan diberi suatu hari nanti, bahkan mungkin tak percaya kepada Sang Pemberi nikmat. Beruntunglah para jiwa yang sederhana nan qana’ah, mereka tak peduli rejeki manusia, hanya menikmati apa yang diberi oleh-Nya.



ISTIRAHAT. Memiliki batas, yaitu mengistirahatkan jiwa, kekuatan akal, dan anggota badan untuk bersiap siap melakukan ketaatan dan mendapatkan keutamaan dalam kadar yang cukup dimana kelelahan dan kepenatan tidak melemahkannya dan tidak mengurangi dampaknya. Bila lebih dari itu, maka ia adalah kemalasan, keengganan dan bentuk penyia-nyiaan. Karena itu banyak kebaikan hamba tersia-siakan. Bila kurang dari itu, maka ia membahayakan kekuatan dan melemahkannya, bisa-bisa dia terputus di tengah jalan, layaknya seorang musafir yang memaksakan diri untuk terus berjalan, akibatnya ia gagal mencapai tujuan dan kendaraannya pun mogok di tengah jalan.

So, bijak-bijak lah dalam beristirahat. Siapa kira, hal seperti ini akan berdampak besar pada kehidupan kita, karena itulah jangan meremehkan istirahat. Meski tubuh kita kuat, atau pernah merasa kuat dan seakan tak butuh istirahat, akan tetapi sejatinya itu seperti suntikan hormon sementara, dan tinggal menunggu waktu saja sampai badan kita terkena efeknya.



KEBERANIAN. Memiliki batas, bila ia melebihinya, maka ia menjadi ngawur. Bila kurang darinya, maka ia menjadi pengecut dan pecundang. Batasannya adalah, maju saat harus maju, dan menahan diri saat harus menahan diri.

Mu’awiyah radhiyallu’anhu berkata pada ‘Amr bin al-ash radhiyallu’anhu ,”Aku tidak mampu mengebali anda, anda itu pemberani ataukah penakut? Anda maju hingga aku menyangka anda orang yang paling berani, tetapi anda diam hingga aku menyangka anda orang yang paling penakut” Maka ‘Amr menjawab, “Pemberani manakal ada kesempata bagiku, bila tidak ada kesempatan maka aku penakut”.

Maka jadilah orang berani dan bijak, bukan hanya berani jika keroyokan atau ada yang membantu, bukan juga nekat melakukan hal-hal yang tak wajar. Bukan pula penakut layaknya dunia seakan menimpanya, juga bukan takut karena enggan tuk kehilangan zona nyamannya atau tak mau mengalami kerugian. So, beranilah saat momen yang tepat, karena kita tak pernah sendirian, ada Allah diatas yang selalu melihatmu. Dan mundurlah jika itu hanya akan menimbulkan keburukan, tak usah pedulikan orang lain, dan jangan sok berani hanya karena ingin pujian dari manusia.


(bersambung…)

#DAY21 #30DWC #daywritingchallenge #30dwcjilid12 #firstsquad




_DONfaiq-LION_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SILAHKAN, BEBAS BERKOMENTAR.